Kamis, 14 April 2011

Dinding Kerinduan

dan aku kini diam.. dalam rasa yang hambar
menatap siang tak berwarna, mengingat wajahnya yg berupa
dan mentari pun jengah tuk bersinar
reruntuhan batu tertawa membahana
di atas jurang curam aku berdiri
meneriaki namanya hingga remuk
dinding - dinding kerinduan

mengapa ingatan tak dapat hilang
dan kerinduan makin mendalam..
dulu nyawanya melayang di udara
dulu suaranya menggema di angkasa
kini tinggal sebaris nama
di batu nisan tak bernyawa


Tidak ada komentar:

Posting Komentar